9 September 2010

TUHAN, MANUSIA dan AGAMA Bagian-2

print this page Cetak

Manusia memang selalu melampaui batas. Ketetapan Tuhan seluruhnya nyaris selalu diingkari. Sejak masa Nabi Adam As, yang namanya manusia, dengan dimotori oleh nafsu dan watak aku-nya, selalu ingin memiliki kelebihan tertentu di atas apa yang telah dicapai orang lain, bahkan kadang ingin seperti "tuhan". Akar dari munculnya sifat yang kemudian menjadi watak, seperti iri dan dengki serta tinggi hati sambil melecehkan orang lain, tertanam dalam hatinya, sadar ataupun tidak, lambat-laun terpupuk dan subur dengan sendirinya.

Bumi yang diciptakan Tuhan tidak sia-sia ini dijadikan ajang untuk memamerkan kesuksesannya mengusasai apa saja yang telah dapat diraihnya di bumi ini walaupun dengan menghalalkan segala cara.

Paling tidak ada tiga tahapan dalam masa kehidupan manusia di dunia ini terkait dengan pemenuhan keinginan nafsu dan watak aku-nya.
Tahap-1 :.memenuhi kebutuhan makan dan syahwat, mulanya sekedar asal bisa "survive", tahap ini dapat dianggap manusia yang didominasi oleh naluri "hewan", jika ini terlampaui, lalu kemudian mulai menumpuk sebanyak mungkin sumber daya untuk memenuhi kebutuhan tersebut diatas, bahkan dengan segala cara, ini namanya awal menuju keserakahan, ujungnya pasti bersaing untuk merebut sumber daya dimaksud, jadilah perang, kemudian membuat kerusakan (fisik maupun moral) dan saling menumpahkan darah.
Tahap-2 memenuhi naluri "ke-manusiaan-nya", pada tahap ini sadar dan berupaya untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, mulailah mengejar kepandaian dan memupuk kearifan, diikuti dengan tercapainya kehormatan dan kemuliaan (harkat dan martabat). Ujungnya, pasti menikmati dipuji dan disanjung serta dihormati dan dimuliakan banyak orang, karena dibutuhkan, dijadikan idola, serta sangat berpengaruh. Jika semua itu dirasakan sudah "memuaskan", berikutnya dia berada di "persimpangan jalan", dengan pertanyaan "apa yang saya cari dari semua ini......?", jika langkahnya keliru, pasti merasa cukup dengan apa yang diperoleh dan dijalankannya selama di dunia ini (berbuat baik serta mulia berjasa untuk memberdayakan dan membela Agama, Masyarakat dan Bangsa), apalagi kalau dia seorang tokoh Agama..Jika ternyata langkahnya benar pada tahap ini, menuju ke Tahap-3, jika tidak dia akan lupa bahwa Tuhan menghadirkan manusia ke dunia ini adalah untuk diuji. Tuhan berkehendak menguji manusia karena manusia akan dimuliakan di sisi-Nya, jika kemudian ragu, akan tersangkut pada keinginan memperoleh ketentraman dan ketenangan dengan cara yang juga keliru berupa obat penenang, bahkan beberapa tokoh dunia seperti psikolog terkemuka,  Sigmund Freud mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, demikian pula artis atau atlit terkenal lainnya.
Tahap-3 memenuhi naluri "Fitrah dari ke-manusiaan-nya, pada tahap ini sadar serta merindukan fitrah keberadaan dirinya di dunia ini, berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Pada titik ini masih ada persimpangan jalan, yaitu Jalan menuju "tuhan" dan Jalan lurus menuju Tuhan.
Ciri-ciri berada dijalan menuju "tuhan" biasanya jika amal ibadahnya sudah dianggapnya cukup (apalagi sekedar mengharap surga dan takut neraka), padahal dia belum tahu siapa yang disembah dalam shalat-nya, tidak pernah bertanya "apakah Tuhan yang disembah Nabi Muhammad SAW sama dengan yang aku sembah?". Allah adalah nama, yang wajib disembah pasti adalah pemilik nama Allah. Nama tidak bisa berbuat apapun, pemiliknya yang bisa.... Misi Rasulullah SAW bukan untuk mengenalkan kata "Allah", kata yang sudah lama dikenal orang Arab, bahkan nama Bapak Beliau adalah Abdullah.
Sedangkan Jalan lurus menuju Tuhan, dalam QS 1:6 "as-sirata al-mustaqim", as-sirata maknanya adalah satu-satunya jalan, sedang al-mustaqim satu-satunya yang lurus hingga sampai dengan selamat kembali kepada Tuhan... Intinya mencari pemilik nama Allah SWT. Tentu tidak akan mungkin sampai menemukan pemilik nama Allah SWT jika tidak ada yang menunjukkan dan mengantarkannya.

Itulah tugas Malaikat Jibril As, serta tugas para Nabi dan Rasul. Hanya saja, Nabi dan Rasul yang terakhir, adalah Muhammad SAW, dan telah lama wafat, sekitar 1.400 tahun lalu. Apakah kalau Beliau wafat ajarannya juga ikut wafat?  Tentu ada seseorang yang Beliau tunjuk (atas perintah Allah SWT) untuk mewakilinya melanjutkan risalah dari Allah SWT yang menjadi saksi adanya Al-Quran dan satu-satunya yang berhak menjelaskan Al-Quran. Tanpa disadari hampir setiap orang yang mengaku Islam, menganggap cukuplah kita mewarisi Al-Quran dan Sunnah.
Islam kemudian terbagi menjadi bermacam-macam golongan dan aliran sendiri-sendiri, padahal ada ungkapan lama, kalau berbeda pemahaman, kembalilah kepada Al-Quran dan Sunnah. Semua Ulama tahu tentang hal itu, namun kenyataannya perbedaan itu tetap ada sampai saat ini. Masing-masing memaknai Al-Quran dengan pemahamannya sendiri (QS 52:41, QS 53:35 serta QS 23:52-53), demikian pula dengan Sunnah.
QS 52:41
Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang Al-Ghaib lalu mereka menuliskannya?
QS 53:35
Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang Al-Ghaib, sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)?
QS 23:52-53
Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.
Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).
Akhirnya kita semua menyaksikan terkotak-kotaknya ajaran suci yang disampaikan Rasulullah SAW. Semua berlomba atas nama Agama untuk berbuat "kebaikan" melakukan  kajian Agama (merasa mampu dan berhak menjelaskan Al-Quran dan Sunnah) yang kemudian menulis kitab dan mengeluarkan fatwa, namun sadar atau tidak, sebenarnya meninggalkan Rasulullah SAW, karena tidak tergerak hatinya untuk mencari Imamim-Mubin(yaitu ahl Adz-Dzikr, QS 16:43, 21:7, 25:59) yang membawa Ilmu Nubuwah, Al-Kitab dan Al-Hikmah.
QS 16:43
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada Ahli Dzikr (yang mempunyai pengetahuan tentang Al-Ghayb) jika kamu tidak mengetahui,
QS 21:7
Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu Ahli Dzikr (yang mempunyai pengetahuan tentang Al-Ghayb), jika kamu tiada mengetahui.
QS 25:59
Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian dia bersemayam di atas 'Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui tentang Dia (tentang Keberadaan Diri-Nya yang Ghayb itu).
Dia adalah wakil dan penerus tugas Rasullullah SAW, yang selalu ada disetiap zaman hingga hari kiyamat atas kehendak Allah SWT berkewajiban membimbing dan menuntun umat manusia agar dapat selamat pulang kembali dengan rasa bahagia bertemu Tuhan.

1 komentar: